Masyarakat di Yogyakarta dan Jawa Tengah pasti mengenal dengan baik keindahan dan keganasan Gunung Merapi. Dengan predikat sebagai salah satu gunung teraktif di dunia, Merapi menyimpan potensi bencana alam berupa letusan atau erupsi. Sudah sejak lama para peneliti geologi mengajukan berbagai macam teori mengenai keganasan letusan Merapi.
Kali Adem adalah obyek wisata yang sangat menarik yang kerap menjadi tujuan utama para pengunjung Kali Adem pasca meletusnya Gunung Merapi adalah bunker maut yang terletak di daerah Bebeng. Jika Anda melihat bunker maut seluas 6 meter x 8 meter ini, Anda pasti menjadi teringat oleh tragedi yang menimpa mahasiswa yang meninggal di bunker kan? Makanya bunker ini masih terlarang untuk dimasuki oleh umum.
Menurut para pemandu dari Karang Taruna Kali Adem, hawa panas di dalam bunker belum sepenuhnya hilang. Pemandangan disana yang dipenuhi dengan warna hitam, putih, coklat, dan abu-abu. Dedaunan dan pepohonan di sekitar tempat itu kering dan hangus, merupakan salah satu bukti betapa panasnya material yang menghancurkan kawasan tersebut. Tetapi setelah lebih dari sebulan, rumput tampak telah mulai tumbuh kembali. Hijaunya rumput cukup memberi harapan di tengah rimbunnya pepohonan kering.
Konon ada cerita aneh pun kerap terdengar dari penduduk sekitar yang berada di lokasi wisata Kali Adem yaitu adanya larangan untuk masuk ke lokasi Kali Adem bagi mereka yang mengenakan baju merah, kuning atau oranye. Karena dipercaya warna-warna cerah tersebut bisa memancing keluarnya lahar, yang bakal mengejar warna tersebut. Lalu bagaimana dengan tim SAR yang berseragam oranye? Tapi itu merupakan kepercayaan tradisional yang seharusnya kita hargai, dengan tidak menentangnya. Daerah wisata yang kemudian dikenal dengan wisata lava ini memang akan dibuka untuk 3 bulan, paling tidak sebelum musim hujan mulai. Karena turunnya hujan bisa saja membawa dampak lain bagi kawasan ini.
Menurut para pemandu dari Karang Taruna Kali Adem, hawa panas di dalam bunker belum sepenuhnya hilang. Pemandangan disana yang dipenuhi dengan warna hitam, putih, coklat, dan abu-abu. Dedaunan dan pepohonan di sekitar tempat itu kering dan hangus, merupakan salah satu bukti betapa panasnya material yang menghancurkan kawasan tersebut. Tetapi setelah lebih dari sebulan, rumput tampak telah mulai tumbuh kembali. Hijaunya rumput cukup memberi harapan di tengah rimbunnya pepohonan kering.
Konon ada cerita aneh pun kerap terdengar dari penduduk sekitar yang berada di lokasi wisata Kali Adem yaitu adanya larangan untuk masuk ke lokasi Kali Adem bagi mereka yang mengenakan baju merah, kuning atau oranye. Karena dipercaya warna-warna cerah tersebut bisa memancing keluarnya lahar, yang bakal mengejar warna tersebut. Lalu bagaimana dengan tim SAR yang berseragam oranye? Tapi itu merupakan kepercayaan tradisional yang seharusnya kita hargai, dengan tidak menentangnya. Daerah wisata yang kemudian dikenal dengan wisata lava ini memang akan dibuka untuk 3 bulan, paling tidak sebelum musim hujan mulai. Karena turunnya hujan bisa saja membawa dampak lain bagi kawasan ini.
ARTIKEL TERKAIT:
Wisata Alam
- Fakta Menarik Tentang Gunung Rinjani
- Cobalah Daki Gunung Kencana
- Seribu Batu Songgo Langit, Sudut Menawan Di Yogyakarta
- Sunrise Dramatis Di Karimunjawa
- Inilah 6 Jalur Pendakian Gunung Prau
- Dieng, Dataran Tinggi Terbaik Di Indonesia
- Harmoni 3 Elemen Di Rinjani
- 5 Gili Selain Trio Gili Di Lombok
- Pusuk Sembalun Di Lombok Timur
- Trawangan, Gili Yang Tak Biasa
- Ada Kisah Kelam Di Balik Cantiknya Goa Jomblang
- Gua Si Oyot, Tantangan Demi Keindahan
- Wayag Yang Ikonik Di Raja Ampat
- Surga Kecil Terhampar Di Jayapura
- Satu Titik Cahaya Di Gua Cokro
- Top Selfie Pinusan Kragilan Lereng Merbabu
- Bercermin Di Kedung Pengilon
- Tegal Panjang, Savana Cantik Di Papandayan
- Gunung Pangonan, Destinasi Baru Kawasan Dieng
- Lau Kawar, Danau Cantik Di Kaki Sinabung
- Danau Sebening Kaca Di Gunung Kerinci
- 5 Gua Eksotis Di Indonesia
- Selimut Mistis Di Curug Penganten
- Benang Kelambu, Air Terjun Eksklusif Di Lereng Rinjani
- Sembalun Lawang, Desa Dalam Bayang Rinjani