Terutama jalur mulai dari Pestan hingga puncak menara Merbabu atau puncak pertamanya. Mengenaskan. Padahal jalur mendaki dari Pestan menuju puncak pertama adalah jalur trakking dan hampir tanpa bonus landai. Jadi bisa di bayangkan jika bau tak wajar serasa memukul hidung!
Merbabu , yang artinya, Mer = Meru = Gunung, dan Babu = Wanita, jadi artinya Merbabu adalah gunung wanita. Bagaikan wanita baik dan ramah yang menjaga tabiat Merapi yang kadang meluap - luap emosinya.
Karena letak Merbabu berada persis di samping Merapi. Otomatis banyak melindungi kawasan - kawasan di kaki Merbabu tatkala Merapi mengamuk memuntahkan lava pijar dan awan panas.
Saat kami susuri lereng Merbabu dari jalur Wekas. Sejak meninggalkan pos Pestan ( Pasar Setan ), bau ta sedap menyentuh hidung, kotoran manusia, pendaki yang katanya pecinta alam!
Sampah di mana - mana menyebar, banyak ranting tergores dan luka, serta Edelweis, bunga abadi para dewa yang mulai terenggut tangan tak adil manusia.
Apa salah alam? Kenapa vandalisme dan kekasaran pada alam ini masih saja membabi buta?
![]() |
TRIBUTE FOR HER
mereka semua tak kan pernah tahu
betapa besar cintaku padamu, duhai gadisku
bahkan mungkin kau juga tak kan pernah tahu
betapa aku mendambamu
dari dulu
aku tak peduli lagi pada sakura itu
ya,aku tak kan pernah peduli lagi
karna kaulah Edelweis ku
karna kaulah Edelweis puncak merbabu ku
Lihatlah siluet mentari itu
tetap seperti itu dari saat kita bertemu
sudikah kau selalu menemaniku?
di puncak itu
dengan segenggam keju
dan terjalnya lereng berbatu
kita berdua terdiam membisu
bibir ini membiru, hati begitu pilu
berharap sang waktu takkan pernah berlalu
dan aku akan sangat bahagia membeku
disini.......
di puncak merbabu
bersamamu.......
Cobalah kasihanilah alam ciptaan Tuhan, mereka berhak hidup layak dan damai di tempatnya, sebagaimana manusia seperti kita juga menginginkan kelayakan hidup di bumi Tuhan. Apa salah mereka? Apa salah alam pada kita?
Biarkan Edelweis di Merbabu menikmati rumahnya, karena mereka hanya bisa hidup nyaman dan terjaga di sana, bukan di atas meja didalam vas bunga rumah kita.
Tak sadarkah atau pura - pura tak mau tahu kita, bahwa alam dan Edelweis menangis tatkala kita petik dan nantinya akan hanya menjadi penghias dan menjadi lambang kesombongan kita, bahwa ini Edelweis ada, kita pernah mendaki gunung sampai puncak!
Menyedihkan dan akan kelihatan pendaki atau pecinta alam gadungan. Semoga menjadi bahan renungan ya kawan alam, biarkan alam seisinya menikmati kehidupan normalnya seperti kita manusia. Cintai alam sepenuh hati agar bumi bernafas kembali.
ARTIKEL TERKAIT:
Inspirasi
- Ternyata Air Lebih Mahal Dari Emas
- Rindu Gunung Yang Dulu...
- Pendaki Era 90 an, Penuh Perjuangan
- Jangan Salah Pilih Teman Pendakian Gunungmu!
- Norman Edwin Quotes
- Tips Seru Petualangan Dengan Anak
- Inilah Sensasi Saat Mendaki Gunung
- Ingin Sahabat Sejati? Carilah Di Hutan Belantara
- Berilah 'Kelas Alam' Bagi Si Kecil
- 10 Lagu Wajib Nasional Indonesia Yang Menggetarkan Hati
- Romantisnya Mendaki Gunung Dengan Pasangan
- Mengharukan: Demi Anak, Seorang Ayah Jual Pena
- 70 Kali Dalam Sehari Maut Dekat Dengan Manusia
- Menikmati Pemandangan Alam Adalah Hak Kita, Tapi....
- Mendaki Gunung Tidak Akan Merubah Apapun!
- Inilah Masjid Portable Yang Pertama Di Indonesia
- Tips Berwudhu Di Alam Bebas
- Tips Packing Yang Tepat Untuk Mendaki Gunung
- Modal Utama Pendakian Gunung: Niat Belajar Dari Alam
- Menjadi Pendaki Yang Cerdas
- Gunung, Racun Yang Menyembuhkan!
- Sang Pemberani Yang Masuk Dalam Kawah Merapi
- Jatuh Cinta Paling Indah Itu Di Puncak Gunung
- Izinkanlah Aku Mendaki Gunung, Sekali Ini
- Dari Gunung Untuk Para Pendakinya