Lalu, mengapa kita menyisakan makanan kita? Jika alasannya hanya telah kenyang, kita bisa mengambil dari awal secukupnya, atau bila alasan tak enak, kita bisa tak jadi mengambilnya dan memilih yang enak sesuai selera kita. Atau coba tanya pada diri sendiri. Tidak pernahkah kita merasakan kelaparan? Atau pernahkah kita membayangkan usaha keras petani dari mulai menanam padi sampai memanennya?
Makanan tidak boleh dianggap enteng. Dalam makanan itu, kamu tidak tahu bagian mana barokah yang diberikan Tuhan padamu. Dan kalau ternyata barokah yang diberikan oleh Tuhan terdapat pada sisa makanan itu, sia - sialah kamu makan. Tidak dapat barokah dari Tuhan yang mengandung kebaikan bagimu, percuma saja berdoa kalau barokahnya tidak kamu dapatkan. Mau dapat apa? sama saja dengan menyia - nyiakan barokah Tuhan.
Makanan yang sisa akan menjadi sampah. Sampah itu akan jadi habitat mikroba dan bakteri. Mikroba dan bakteri itu menghasilkan zat racun dan menyebabkan bau busuk. Tentunya itu mencemari lingkungan. Lingkungan yang kotor diperparah oleh sisa makanan yang membusuk. Ini jelas lingkungan yang tidak sehat. Dengan kita menyisakan makanan, berarti kita juga berperan dalam pencemaran lingkungan.
Orang yang menyisakan makanan itu menandakan bahwa dia adalah orang yang tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Tidak ingatkah dia pada para fakir miskin? Tidak ingatkah dia pada pengemis jalanan? Tidak ingatkah dia pada korban bencana alam? Tidak ingatkah dia pada orang - orang yang kelaparan? Sesuap kecil makanan saja sangat berharga bagi mereka, apa lagi kalau dihadapkan pada makanan yang melimpah. Bagi mereka rezeki sekecil apapun sangat berharga, tidak akan disia - siakan barang sedikitpun. Rezeki disyukurinya, karena jadwal makan mereka tak tentu. Lebih sering kelaparan daripada kenyang.
Makanan itu juga merupakan rezeki disamping berupa harta benda. Ingat, makanan itu kebutuhan utama manusia. Apabila tidak ada makanan, manusia tidak akan bisa hidup walau memiliki harta. Tidak semestinya rezeki yang diberikan Tuhan pada kita disia - siakan. Ini sama saja dengan kufur nikmat. Padahal, bila kita kufur terhadap nikmat Tuhan, bahwasanya azab Tuhan itu sangat pedih.
ARTIKEL TERKAIT:
Inspirasi
- Ternyata Air Lebih Mahal Dari Emas
- Rindu Gunung Yang Dulu...
- Pendaki Era 90 an, Penuh Perjuangan
- Jangan Salah Pilih Teman Pendakian Gunungmu!
- Norman Edwin Quotes
- Tips Seru Petualangan Dengan Anak
- Inilah Sensasi Saat Mendaki Gunung
- Ingin Sahabat Sejati? Carilah Di Hutan Belantara
- Berilah 'Kelas Alam' Bagi Si Kecil
- 10 Lagu Wajib Nasional Indonesia Yang Menggetarkan Hati
- Romantisnya Mendaki Gunung Dengan Pasangan
- Mengharukan: Demi Anak, Seorang Ayah Jual Pena
- 70 Kali Dalam Sehari Maut Dekat Dengan Manusia
- Menikmati Pemandangan Alam Adalah Hak Kita, Tapi....
- Mendaki Gunung Tidak Akan Merubah Apapun!
- Inilah Masjid Portable Yang Pertama Di Indonesia
- Tips Berwudhu Di Alam Bebas
- Tips Packing Yang Tepat Untuk Mendaki Gunung
- Modal Utama Pendakian Gunung: Niat Belajar Dari Alam
- Menjadi Pendaki Yang Cerdas
- Gunung, Racun Yang Menyembuhkan!
- Sang Pemberani Yang Masuk Dalam Kawah Merapi
- Jatuh Cinta Paling Indah Itu Di Puncak Gunung
- Izinkanlah Aku Mendaki Gunung, Sekali Ini
- Dari Gunung Untuk Para Pendakinya