1. Karena kita manusia ditempatkan di bumi dengan amanah sebagai pengelola. Mengelola bumi beserta isinya termasuk flora dan fauna. Pengelola berarti memanfaatkan sekaligus menjaga keberlangsungannya, agar tidak timbul kerusakan. Seperti halnya pegawai yang di amanahi tugas oleh atasannya, maka akan ada penilain terhadap kinerjanya. Begitu juga kita. Di amanahi untuk mengelola bumi, dan juga akan dimintai pertanggung jawabannya akan apa yang kita kelola. Kalau kerja kita tidak bagus, bisa jadi kita dihukum. Jadi, karena flora dan fauna termasuk isi bumi yang harus kita kelola, maka jika kita tidak baik mengelolanya, kita bisa mendapat hukuman dari Allah SWT.
2. Karena makhluk lain seperti flora dan fauna juga berhak untuk hidup dan menempati bumi ini. Mereka juga berhak mencari rezeki dari bumi. Karena Allah SWT menjamin rezeki semua makhluknya. Jadi kita tidak berhak menghalanginya.
3. Karena apa - apa yang diciptakan Allah SWT pasti tidak akan sia - sia. Jadi jika kita berpikir bahwa hilangnya beberapa jenis fauna atau satwa tidak akan membawa pengaruh, bisa jadi kita telah meremehkan hasil ciptaan Allah SWT.
Banyak teori agar lingkungan ( hutan ) tidak hancur, dari reboisasi, sampai "atur diri sendiri" hutanmu. Itu teori diperuntukan manusia untuk mengatur lingkungan. Namun, adakah teori bagi lingkungan untuk mengatur manusia. Tidak ada. Yang ada kalau mereka ramah dengan kita, maka kita pun akan ramah dengan mereka ( manusia ). Apakah mereka akan ramah dengan kita ?
Bukti adanya bukit tanpa pohon, karena ulah manusia yang tidak ramah dengan hutan. Bukti adanya banjir dan kekeringan juga membuktikan hutan tidak ramah bagi manusia. Bagi hutan, mereka berjuang bertahun - tahun agar tidak mati. Kemudian ulah manusia yang tidak ramah, mereka mau merampas kemerdekaan hutan. Namun hukum itu sungguh terasa adil. Meski manusia anggap hutan sudah mati, namun alam yang akan membalas perbuatan manusia. Seperti hukum alam saja yang mengatur antara manusia dengan hutan. Apakah memang perlu demikian ? Seperti nyanyian sunyi dan lesu bagi hutan "Kemerdekaan ini, janganlah cepat berlalu…." Mendengar nyanyian lesu tersebut apakah manusia dengan hukumnya akan lebih merampas hutan atau akan bertindak ramah dengan mereka ?
ARTIKEL TERKAIT:
Inspirasi
- Ternyata Air Lebih Mahal Dari Emas
- Rindu Gunung Yang Dulu...
- Pendaki Era 90 an, Penuh Perjuangan
- Jangan Salah Pilih Teman Pendakian Gunungmu!
- Norman Edwin Quotes
- Tips Seru Petualangan Dengan Anak
- Inilah Sensasi Saat Mendaki Gunung
- Ingin Sahabat Sejati? Carilah Di Hutan Belantara
- Berilah 'Kelas Alam' Bagi Si Kecil
- 10 Lagu Wajib Nasional Indonesia Yang Menggetarkan Hati
- Romantisnya Mendaki Gunung Dengan Pasangan
- Mengharukan: Demi Anak, Seorang Ayah Jual Pena
- 70 Kali Dalam Sehari Maut Dekat Dengan Manusia
- Menikmati Pemandangan Alam Adalah Hak Kita, Tapi....
- Mendaki Gunung Tidak Akan Merubah Apapun!
- Inilah Masjid Portable Yang Pertama Di Indonesia
- Tips Berwudhu Di Alam Bebas
- Tips Packing Yang Tepat Untuk Mendaki Gunung
- Modal Utama Pendakian Gunung: Niat Belajar Dari Alam
- Menjadi Pendaki Yang Cerdas
- Gunung, Racun Yang Menyembuhkan!
- Sang Pemberani Yang Masuk Dalam Kawah Merapi
- Jatuh Cinta Paling Indah Itu Di Puncak Gunung
- Izinkanlah Aku Mendaki Gunung, Sekali Ini
- Dari Gunung Untuk Para Pendakinya