Panggilan Paimo dihadiahi rekan - rekannya semasa kuliah di Jurusan Seni Rupa ITB. Cermin kerendahan hati yang tak menutupi cita - cita tinggi: menjelajah dunia dengan sepeda demi Indonesia. Dimulai ketika usianya 22 tahun, 1980. Perjalanan yang dinamainya "Cintaku Negeriku" itu menembus 1.656 kilometer. Melintas bersepeda Bandung - Sumbawa Besar dan mendaki Rinjani di Lombok dan Tambora di Sumbawa.
Paimo, kelahiran 17 Maret 1958, mulai merintis bersepeda sejak SMP, menempuh Malang - Kediri, dan Malang – Tulungagung. “Pas SMA mulai antar pulau, dan ketika mahasiswa mengayuh lebih dari 1.500 kilometer sekali perjalanan,” tutur pria dengan penampilan lebih muda dari usianya itu.
Diceritakannya lagi, sejak awal ia menggabungkan bersepeda dengan mendaki gunung, minat lain yang dulu sulit dijalani karena mahalnya biaya perjalanan. "Saya siasati dengan bersepeda mencapai kakinya, sepeda saya titipkan di bawah atau saya tuntun atau panggul hingga puncak.”
Jelajah Nusa Tenggara bermodal rangka sepeda hadiah teman, lalu komponennya ia lengkapi dari berburu di pasar loak Jatayu, Bandung. Sepeda rakitan ini menemani sampai sepuluh tahun kemudian, sampai ia memiliki sepeda produksi dalam negeri yang ia pakai hingga 2009.
Semangat mandiri dipilih Paimo untuk membiayai perjalanannya. Terilihami para wanita pengayuh yang membiayai perjalanan dengan menjual pin, Paimo yang kebetulan juga kolektor pin sejak SMP, memanfaatkan pula kepiawaiannya sebagai mahasiswa seni rupa untuk membuat pin.
“Pertama kali jelajah sepeda keluar negeri, ke Tibet, Jalur Sutra dan Tembok Besar China, 1993, separuhnya dari berjualan pin. Melintasi Australia pada 1995, seluruh biaya dari pin. Dengan harga Rp 3.500 – Rp15.000 per buah, bayangkan, berapa ribu pin yang berhasil saya jual,” Paimo tertawa mengenang.
Pertemuannya dengan para penjelajah lain di luar negeri juga berhasil mengundang mereka mengunjungi Indonesia untuk jelajah sepeda dan mendaki gunung. Paimo pun menjalin persahabatan abadi dengan para pendamping perjalanannya.
“Saya ingin bertemu kembali dengan Jit Bahadur Tamang, kitchen boy dan porter guide yang mendampingi saya 12 tahun lalu menjelajah Nepal, sama - sama tersesat karena belum berpengalaman. Akhirnya saya bertemu lagi di Mera Peak ketika ia sudah jadi leader guide.”
Setelah membukukan pengalaman lewat Bersepeda Membelah Pegunungan Andes ( 2012 ), Paimo berniat membukukan berbagai pegalamannya bersepeda dan mendaki gunung termasuk ke Tibet dan Nepal.
Sikap rendah hatinya masih sama. Kekuatan cintalah yang menurutnya memampukannya menaklukkan seluruh rintangan. Dalam akun Facebook - nya, bisa kita simak pernyataan cinta pada istri dan putri tercintanya, merayakan hari bahagia dari jarak jauh, dari ketinggian gunung yang baru ia gapai. src
ARTIKEL TERKAIT:
Legenda
- 5 Tokoh Yang Menginspirasi Pendaki Gunung Indonesia
- Norman Edwin Quotes
- Fakta Tentang Soe Hok Gie
- Legenda Puncak Syarif Gunung Merbabu
- Asmujiono Diselamatkan Adzan Saat Di Puncak Gunung Everest
- Siapakah Perancang Lambang Garuda Pancasila?
- Makam Ki Ageng Makukuhan Di Puncak Gunung Sumbing
- Dahsyatnya Letusan Tambora Yang Melegenda
- Runtuhnya Penyumbang Emas Tugu Monas
- Medina Kamil Menikah, Fans Cowok Silahkan Nangis Bareng!
- Siapa Pencetus Kalimat "Ini Ibu Budi"?
- Menjadi Anak Muda Bermutu Ala Soe Hok Gie
- Inilah Perempuan Termuda Pertama Pemuncak Everest
- Mengenal Clara Sumarwati Lebih Dekat
- Clara Sumarwati Belajar Manajemen Pada Alam
- Tips Sukses Clara Sumarwati Mendaki Everest
- Pengorbanan Asmujiono
- Foto - Foto R.M.S Titanic Yang Tidak Banyak Diketahui
- Tiga Sosok Pentolan Preman Yogyakarta
- Gun Jack, Preman Legendaris Dari Yogyakarta
- Alyssa Azar Siap Menjadi Pendaki Wanita Termuda Everest
- Keris Mpu Gandring Yang Terkubur Di Kawah Gunung Kelud
- Gie, Dokter Cinta Yang Gagal Dalam Asmara
- Para Pendaki Hebat Gunung Everest
- Soe Hok Gie Dan Bung Karno